Penulis: Fadilla Mutiarawati Apristawijaya | Foto: Fadilla Mutiarawati Apristawijaya dan Sokola Institute
Penulis: Fadilla Mutiarawati Apristawijaya | 5 Januari 2026
”Dulu, kami punya banyak petatas, sekarang tidak lagi. Setelah pakai obat (herbisida), semua yang tumbuh hanya yang ditanam setelah obat,” ujar Mama Yuli. “Padahal, Ibu, ubi manusia itu tidak pernah mati meski diambil ubinya. Tapi e, sekarang sudah susah,” lanjutnya. Aku mendengarkan sambil membayangkan petatas atau ubi-ubian yang dimaksud. Disebut ubi manusia karena ukurannya bisa sebesar kaki manusia. Di Sodan, ubi ini biasa disebut luwa pi.
Mama Yuli tinggal di Kampung Adat Sodan, Sumba Barat. Suaminya baru meninggal sekitar setahun lalu. “Sekarang saya hidup sendiri, tidak kuat kerja, tetapi tahun ini saya sudah tanam kamaggeha sedikit. Air rebusan kamaggeha enak sekali, bisa buat obat kalau tidak enak di sini,” ujar Mama Yuli sambil meraba dadanya. Selain itu, Mama Yuli juga bercerita bahwa kamaggeha yang merupakan jenis biji-bijian bisa dimasak dengan daun petatas, daun kelor, dan santan sebagai menu sehari-hari.
Sebentar lagi, wulla mangata tiba, yakni musim di mana orang-orang menanami kebun. Maka, para lelaki sudah mulai sibuk mempersiapkan kebun: membersihkan semak, membakar tanaman liar, serta membuka tanah. Sementara, para perempuan menyiapkan benih di rumah. Di tangan para perempuanlah benih-benih dipilih, dipilah, dan diingat, benih mana yang kuat dan mana yang harus ditanggalkan.
Saat tiba waktunya menanam, semua dilakukan bersama. Benih ditanam serempak bersama oleh lelaki dan perempuan, tua dan muda. Tanaman juga dirawat bersama, dan panen pun menjadi kerja kolektif seluruh keluarga dan komunitas. Baru setelah panen usai dan hasil kebun dibawa pulang, kembali perempuan yang mengolahnya.
Mama-mama di Sodan tahu persis bagaimana setiap tanaman harus diperlakukan sebelum menjadi makanan. Misalnya pare atau padi yang hanya boleh ditumbuk satu kali, tidak lebih. Biji jewawut yang halus atau disebut watti harus harus ditumbuk sampai tiga kali dengan alu kecil agar tidak beterbangan. Kamaggeha harus dititi terlebih dahulu, atau ditumbuk dengan batu untuk membuka kulitnya yang keras seperti cangkang. Sementara, luwa harus diiris tipis, dijemur hingga kering, lalu ditumbuk sebelum akhirnya dicampur dengan kacang merah untuk menjadi luwa hakla, sajian khas Sodan yang kini semakin jarang ditemui sebagai menu harian. Untungnya, luwa hakla masih bisa ditemui di acara adat.
Perlahan-lahan, kebun-kebun di Sodan kini mulai dipenuhi benih-benih baru dari toko. Benih lokal tampak semakin menghilang, meskipun tidak pernah benar-benar pergi. Diam-diam, para perempuan seperti Mama Yuli masih menyimpannya. Mereka menanamnya di pinggir pematang padi atau jagung, dan di sekitar pekarangan rumah. Anak-anak mungkin lebih menyukai beras yang pulen dan gurih. Namun, para mama tetap menganggap benih-benih lokal ini penting. Mereka menjadi penjaga, untuk hari ketika benih itu kembali dibutuhkan. Beberapa benih bahkan tidak lagi dianggap sekadar makanan, melainkan tanaman obat yang harus selalu ada di kampung karena tidak dapat ditemukan di pasar. Seperti kamageha yang airnya dipercaya dapat memberi kesembuhan, atau kacang merah yang menjadi bagian penting dari luwa hakla pada saat kegiatan-kegiatan adat.
Di Sodan, adat dan perempuan saling terkait erat. Melalui tangan para mama, pengetahuan dijaga, benih dirawat, untuk masa depan. Perempuan menjadi penjaga yang sunyi, namun kokoh, menyimpan benih, merawat ingatan, dan memastikan bahwa kehidupan akan terus berlanjut.